Total Tayangan Halaman

Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 Januari 2015

Rancangan Program untuk Anak kelas 2 SD (TUGAS)

BAB II
Landasan dalam Penyusunan Program

2.1 Latar Belakang Penyusunan Program
     Pada era globalisasasi ini, siswa dituntut  untuk dapat mengikuti perkembangan dunia yang tidak ada habisnya. Dalam mengikuti perkembangan dunia, siswa harus memahami lebih dari dua bahasa, salah satunya adalah Bahasa Inggris. Keterampilan dalam berbahasa Inggris sangat dibutuhkan terutama dalam tuntutan pekerjaan. 
     Salah satu dasar dari keterampilan Bahasa Inggris adalah vocabulary knowledge, yaitu kemampuan untuk mengetahui arti dari bahasa (Shanker, 2010). Pengetahuan akan vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris sangat diperlukan dalam memahami kata, dan memahami bacaan. Menurut Coyne, et al. (2011), hubungan antara vocabulary knowledge dan pemahaman relatif berbanding lurus. Menurut Stahl (dikutip dalam Coyne, et al., 2011), jika siswa tidak tahu arti dari kata secara tunggal, kemampuan mereka untuk memahami makna dari kalimat secara utuh atau paragraph menjadi berkurang.
     Pengembangan vocabulary knowledge  dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti barang-barang yang di sekitar kita. Program ini dibuat untuk meningkatkan vocabulary knowledge pada siswa dengan cara membiasakan siswa melihat petunjuk kata dalam Bahasa Inggris mengenai barang-barang yang ia kenali.


2.2 Tujuan Penyusunan Program
     Penulis menyusun makalah rancangan program pendidikan belajar dengan melihat. Pengertian dari belajar dengan melihat ini adalah anak melihat kata yang ada di dalam suatu benda lalu mengingat kata tersebut untuk meningkatkan vocabulary knowledge yang ia miliki. Program ini bertujuan untuk membantu siswa dalam menambah pengetahuan dalam Bahasa Inggris terutama pada vocabulary knowledge. Siswa tidak hanya mampu meningkatkan vocabulary knowledge, tetapi juga mampu mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan benar. Program ini juga diharapkan untuk membantu guru dalam mengajarkan siswa pelajaran Bahasa Inggris.
2.3 Analisis Karakteristik Kompetensi
     Menurut Papalia (dikutip dalam Gunarsa, 2004), bilingual adalah kefasihan berbicara dua bahasa. Dua bahasa yang dimaksud biasanya adalah bahasa ibu (native language) dan bahasa asing (foreign language). Kemampuan bilingual sangat diperlukan di dunia pekerjaan dan harus dilatih sejak kecil.
     Pada siswa kelas tiga SD terdapat beberapa silabus yang diberikan salah satunya adalah pada bab satu, yaitu at home. Standar kompetensi  pada bab ini adalah siswa mampu mengidentifikasi peralatan rumah tangga dan lokasi dimana peralatan tersebut diletakkan. Pada bab tiga, yaitu cultures and food siswa diharapkan untuk belajar mengenai makanan dan mengidentifikasi makanan (Robinson, 2013). Siswa kelas tiga SD juga bisa diajarkan mengenai barang-barang yang ada di dalam kelas dalam Bahasa Inggris.

2.4 Analisis Karakteristik Pemberi Program
          Menurut Santrock (2012),  guru yang efektif harus memiliki beberapa komponen dalam mengajar. Komponen penting yang harus dimiliki guru dalam memberikan program pendidikan yang dirancang penulis kepada siswa adalah Subject Matter Competence, Instructional Strategies, Motivational Skill, Communication Skill, Technological Skill.
      Pada subject matter competence, menurut Abruscato, et al. “memiliki pemahaman yang dalam mengenai materi adalah aspek penting untuk menjadi kompeten” (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru juga harus mampu menerapkan aplikasi pembelajaran di kehidupan sehari-hari. Di kelas Bahasa Inggris guru harus menguasai materi mengenai bahasa Inggris. Guru juga harus memiliki vocabulary knowledge yang banyak dalam Bahasa Inggris terutama pada benda-benda yang ada di sekitar siswa seperti di dalam kelas.
     Pada Instructional Strategies guru menggunakan constuctivist approach, yaitu pembelajaran terpusat pada siswa. Guru akan membantu siswa menambah vocabulary knowledge mereka dengan mengenal benda-benda yang ada di  lingkungan siswa dalam Bahasa Inggris. Guru akan memberi tugas kepada siswa untuk menempelkan kertas pada benda-benda yang ada di sekitar mereka berisi nama benda tersebut dalam bahasa inggris.
     Pada motivational skill, menurut Anderman dan Dawson, “guru yang efektif memiliki strategi yang baik untuk membantu siswa bisa memotivasi dirinya dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari” (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru harus memiliki strategi seperti memberikan reinforcement  bagi siswa yang memiliki vocabulary knowledge paling banyak agar para siswa mampu memotivasi diri mereka dalam menambah vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris.
     Pada communication skill, guru harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada siswa. Guru harus mampu menjelaskan tugas yang diberikan kepada siswa dengan sangat jelas agar siswa mengerti mengenai tugas tersebut. Guru juga harus mampu menjawab pertanyaan siswa dengan sikap yang bersahabat sehingga siswa senang untuk berkomunikasi dengan guru.
     Pada technological skill, guru harus mampu menjadikan teknologi sebagai alat pendukung dalam pembelajaran. Guru harus mengenalkan kepada siswa mengenai teknologi seperti internet dan kamus elektronik untuk menambah vocabulary knowledge pada siswa.
2.5 Analisis Karakteristik Peserta Program
     Peserta program “belajar dengan melihat” adalah siswa dari sekolah dasar (SD). Sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu enam tahun mulai kelas satu sampai kelas enam (Kemdikbud, 2012).
     Siswa yang mendapatkan program ini adalah siswa kelas tiga SD yang berada dalam tahapan middle childhood. Menurut Piaget, anak usia middle childhood berada pada tahapan concrete operations yaitu ketika anak mampu menggunakan operasi mental seperti penalaran dan menyelesaikan masalah konkrit (dikutip dalam Papalia, & Feldman, 2012). Anak akan lebih mudah untuk belajar ketika ditunjukkan contoh langsung. Dengan melihat langsung benda yang ada di sekitar anak, lalu nama benda tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Inggris anak akan lebih dalam belajar bahasa Inggris.
     Pada tahapan concrete operations, siswa juga memiliki  kemampuan mengkategorisasikan objek. Pada program pembelajaran ini siswa juga akan diminta untuk mengkategorisasikan benda mana yang termasuk alat tulis, perabotan rumah tangga, peralatan untuk makan dan lain-lain.
      Siswa kelas tiga SD yang umumnya berumur delapan sampai sembilan tahun berada pada tahapan psikososial industry vs inferiority. Pada tahapan ini anak ingin berkompetisi dan menjadi lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Siswa kelas tiga SD diharapkan mampu bersaing untuk memiliki vocabulary knowledge paling banyak. Pada tahapan ini self-esteem anak mulai terbentuk.
     Menurut Erikson, “faktor yang menentukan self-esteem­ adalah pandangan siswa mengenai kapasitas mereka dalam pekerjaan yang produktif” (dikutip dalam Papalia & Feldman, 2012).

2.6 Analisis Pendekatan Belajar
     Pendekatan belajar yang digunakan pada program ini adalah behavioral approach dan the information-processing approach. Pendekatan belajar pertama adalah behavioral approach, pada pendekatan ini terdapat pandangan behaviorism. Pandangan behaviorism yaitu pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan dengan pengalaman observasi, bukan dengan proses mental. Perilaku adalah semua yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, baik verbal maupun nonverbal yang dapat dirasakan oleh indera. Perilaku tersebut bisa seperti anak membuat poster, dan guru mengajar (Santrock, 2012).
     Siswa dapat menciptakan hasil yang nyata dalam tugas ini yaitu barang-barang yang dimiliki siswa dapat ditempel dengan kertas yang berwarna dan bagus, dan tulisan yang rapi. Guru juga harus melihat dan mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas tersebut apakah benar atau salah.
     Pendekatan belajar yang kedua adalah the information-processing approach¸ yaitu pendekatan yang menekankan bagaimana siswa memanipulasi informasi, mengawasi dan membuat strategi mengenai informasi tersebut (Santrock, 2012).
2.7 Analisis Aktivitas Belajar
     Pada program ini juga menggunakan pembelajaran operant conditioning, yaitu bentuk dari pembelajaran dengan konsekuensi dari perilaku yang menghasilkan perubahan dengan kemungkinan suatu perilaku akan muncul (Santrock, 2012). Siswa diberikan reinforcement, yaitu konsekuensi yang meningkatkan kemungkinan suatu perilaku akan muncul (Santrock, 2012). Jenis reinforcement yang diberikan berupa pujian untuk siswa ketika mampu menghapal kata-kata dalam Bahasa Inggris. Siswa juga melakukan proses modelling, yaitu pembelajaran yang terjadi ketika sesorang mengobservasi dan mengimitasi perilaku (King, 2013). Guru menempelkan kata dalam Bahasa Inggris pada setiap benda, saat melihat perilaku guru, siswa akan terpacu untuk mengikuti guru tersebut.
     Metode pengajaran yang diberikan guru di kelas adalah dengan mekanisme untuk mengubah keterampilan kognitif anak yaitu encoding, automaticity¸dan strategy construction.
     Encoding adalah proses dimana informasi dimasukkan ke dalam memori (Santrock, 2012). Siswa akan diminta untuk melakukan proses encoding dengan cara menempelkan kertas berisi tulisan nama benda dalam bahasa Inggris pada setiap benda yang ada di sekitar siswa. Setiap kali siswa melihat benda tersebut, siswa akan melihat nama benda tersebut dalam bahasa inggris. Nama benda dalam bahasa Inggris tersebut akan masuk ke dalam memori anak contohnya anak akan melihat bahwa table adalah Bahasa Inggris dari meja.
     Automaticity adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit usaha atau tanpa usaha (Santrock, 2012). Ketika anak sudah melakukan encoding¸ anak akan mampu memproses informasi khususnya dalam Bahasa Inggris secara otomatis. Saat anak ditanyakan kata pintu dalam Bahasa Inggris, anak akan langsung menjawab “door” secara cepat tanpa berpikir panjang.
     Strategy construction adalah membuat prosedur baru untuk memproses informasi (Santrock, 2012). Saat guru sudah membiasakan anak untuk menghafal nama benda dalam Bahasa Inggris dengan cara melihat ke arah tulisan yang ditempel, anak akan mencari cara lain menghafal seperti menuliskan nama benda dalam Bahasa Inggris di buku catatan.
     Ketika tiga tahapan mengubah keterampilan kognitif anak sudah dilakukan, diharapkan informasi tersebut dapat masuk ke long-term memory.  Menurut Santrock (2012), long-term memory adalah memori dalam jumlah yang banyak untuk masuk ke dalam memori dalam jangka waktu yang panjang.
     Pada program ini, anak juga akan diminta untuk belajar dengan individu. Hal ini dikarenakan pada tahapan psikososial industry vs inferiority¸anak akan berusaha untuk berkompetisi dan menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Maka dari itu mengerjakan tugas secara individual akan cocok untuk anak pada tahapan ini.
2.8 Analisis Evaluasi Belajar
     Jenis assessment yang dilakukan guru untuk penilaian adalah summative assessment yaitu penilaian setelah instruksi dilakukan, dengan tujuan mendokumentasikan performa siswa (Santrock, 2012). Guru akan menilai dengan menanyakan nama-nama benda yang diingat oleh siswa setelah beberapa hari siswa terbiasa melihat benda yang ditempelkan nama benda tersebut dalam bahasa inggris.
     Proses penilaian juga bisa menggunakan cara matching items, yaitu menurut Humbleton (dikutip dalam Santrock, 2012), guru akan meminta siswa mencocokkan satu kelompok stimuli dengan satu kelompok stimuli yang lainnya dengan benar. Siswa akan diberikan kertas yang berisikan gambar dari benda-benda di sisi kiri dan tulisan berisi nama benda di sisi kanan. Siswa disuruh mencocokkan nama benda yang sesuai dengan bendanya. Siswa juga bisa diberikan dua tumpuk kartu, satu tumpuk kartu berisi gambar dan satu tumpuknya lagi bertuliskan nama-benda dalam Bahasa Inggris lalu siswa disuruh mencari pasangan setiap kartu.
     Guru juga dapat menggunakan tes vocabulary knowledge, menurut Mar’at (2005),  dalam tes ini, anak harus menunjukkan gambar mana yang sesuai dengan kata-kata yang diucapkan tes, untuk mengukur apakah anak mengerti makna tersebut. Dapat pula anak disuruh menyebutkan nama dari benda-benda yang terdapat dalam suatu gambar.

















Bab III
Program Belajar dengan Melihat
3.1 Tujuan Program
     Tujuan program “Belajar dengan Melihat” ini menggunakan Bloom’s taxonomy yang dikembangkan oleh Benjamin Bloom beserta temannya. Pada Bloom’s taxonomy terdapat tiga domain yaitu kognitif, afeksi, dan psikomotor. Tujuan program ini hanya menggunakan dua domain dari Bloom’s taxonomy yaitu kognitif dan afeksi.
     Domain kognitif terdiri dari enam objektif yaitu: (a) knowledge, siswa memiliki kemampuan untuk mengingat informasi. Siswa diharapkan mampu mengingat informasi mengenai nama benda yang ada di sekitar dalam Bahasa Inggris; (b) comprehension, siswa memahami informasi dan dapat menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri. Siswa mampu memahami informasi mengenai nama benda dalam Bahasa Inggris, lalu mampu menjelaskan nama tersebut dengan guru dan teman-temannya dengan cara mereka sendiri; (c) application, siswa menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata. Siswa diharapkan mampu menggunakan pengetahuan mereka dalam Bahasa Inggris, seperti lebih paham dalam membaca teks Bahasa Inggris; (d) analysis, siswa memecah informasi yang kompleks ke dalam bagian-bagian kecil dan menghubungkan informasi ke informasi yang lainnya. Siswa diharapkan mampu membedakan kata benda berdasarkan kegunaannya seperti pada kata book, dipecah lagi menjadi textbook, phonebook, dan lain-lain; (e) synthesis,  siswa mengombinasikan elemen dan membuat informasi baru. Pada program ini siswa dapat mencari nama baru dalam Bahasa Inggris pada suatu benda baru sehingga ia mendapatkan informasi dan vocabulary knowledge yang baru; (f) evaluation, siswa membuat penilaian yang baik dan keputusan. Melalui program ini siswa diharapkan membuat penilaian seberapa banyak vocabulary knowledge yang ia miliki dan memutuskan untuk menambah lagi.
     Menurut Krathwohl (dikutip dalam Santrock, 2012), pada domain afeksi memiliki lima objektif yang terkait dengan respon emosional terhadap tugas yaitu: (a) receiving, siswa menjadi aware dan perhatian terhadap sesuatu di dalam lingkungannya. Dengan pemberian label pada setiap benda siswa akan lebih memperhatikan barang-barang yang ada di sekitarnya; (b) responding, siswa menjadi termotivasi untuk belajar dan menampilkan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Siswa diharapkan termotivasi untuk memperbanyak perbendaharaan mereka dan memberitahukan apa yang ia ketahui kepada guru dan orangtuanya; (c) valuing, siswa menjadi terkait atau komitmen pada beberapa pengalaman. Siswa akan merasa pintar ketika ia memiliki vocabulary knowledge yang banyak sehingga ia terus menambah vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris; (d) organizing, siswa mengintegrasikan nilai baru yang sudah ada pada seperangkat nilai dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Siswa memiliki nilai dari setiap vocabulary knowledge yang ia miliki, dan ia akan menempelkan kata dalam Bahasa Inggris pada setiap barang baru yang ia miliki; (e) value characterizing siswa bertingkahlaku sesuai dengan nilai baru dan komitmen kepada nilai tersebut. Siswa diharapkan meningkatkan vocabulary knowledge yang ia miliki tidak hanya pada benda-benda tetapi pada kata yang lain.
3.2 Jangka Waktu Pelaksanaan
     Jangka waktu pelaksanaan program ini adalah selama satu bulan. Program ini dilaksanakan 1 kali dalam seminggu pada 1 sesi dengan waktu 90 menit. Pelaksanaan program ini dilakukan dengan waktu yang cukup lama karena dalam pelaksanaan program ini dibutuhkan banyak prosedur. Waktu yang cukup lama juga dikarenakan waktu untuk pelajaran Bahasa Inggris di jadwal pelajaran yang sudah ditetapkan dari sekolah sangat sedikit.
3.3 Kondisi Tempat Pelaksanaan
     Kelas yang digunakan menggunakan standard classroom arrangement dengan model auditorium style yaitu semua siswa duduk menghadap ke arah guru. Pengaturan kelas seperti ini akan menghambat interaksi face-to-face pada siswa. Auditorium style sering digunakan ketika presentasi.
Figur 1. Auditoritum Style Classroom
     Pencahayaan di dalam kelas sangat penting untuk menjaga konsentrasi siswa dalam belajar. Cahaya dengan spektrum penuh atau cahaya alami adalah yang paling baik. Suhu di dalam kelas juga harus diperhatikan. Idealnya di dalam kelas harus memiliki pendingin udara, tetapi jika  keuangan sekolah tidak mencukupi bisa disiasati dengan cara lain seperti ruangan kelas yang terbuka atau meletakkan beberapa tanaman untuk menghasilkan oksigen (Rupilu, 2012).
3.4 Materi Perlengkapan
     Untuk membuat pelaksanaan program menjadi lebih efektif, diperlukan alat-alat untuk membantu pelaksanaan program ini. Alat-alat yang dibutuhkan adalah papan tulis, kertas warna-warni, spidol, microphone, kamus Bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Bahasa Inggris.
3.5 Prosedur Pelaksanaan Program
Tabel 1
Kegiatan dalam Rancangan Program Pendidikan
No.
Tujuan Instruksional
Waktu
Kegiatan
Keterangan
1.
Siswa mengenal Bahasa Inggris baru.
30 menit
Guru menuliskan di papan tulis kata-kata mengenai benda-benda di sekitar kita dalam Bahasa Inggris.
Papan Tulis
2.
Siswa mampu mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan benar.
15 menit
Setelah guru menuliskan kata dalam Bahasa Inggris, guru mengajak siswa bersama-sama menggunakan kata tersebut.
microphone
3.
Siswa mampu menuliskan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan benar.
15 menit
Guru menyuruh siswa menuliskan kata-kata tersebut dalam Bahasa Inggris. Setelah itu siswa diberikan tugas untuk menempelkan kata-kata tersebut pada benda.
Kertas warna-warni, spidol, selotip
4.
Siswa mampu menghapal kata-kata dalam Bahasa Inggris
1 jam
Setiap siswa maju di depan kelas dan ditanyakan mengenai kata-kata dalam Bahasa Inggris beserta artinya. Siswa juga diberikan kartu bergambar dan menebak Bahasa Inggris dari gambar yang ada di dalam kartu tersebut. 
Kartu bergambar




3.6 Aspek-Aspek yang Perlu Dipertimbangkan dan Upaya yang dapat Dilakukan
     Aspek yang perlu dipertimbangkan meliputi motivasi, masalah prestasi, variasi individual, dan suasana kelas. Siswa dalam kelas Bahasa Inggris melakukan tugas tersebut secara individu. Guru harus berusaha untuk menumbuhkan intrinsic  motivation  yang lebih besar dibandingkan extrinsic motivation. Intrinsic motivation adalah motivasi internal melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, sedangkan extrinsic motivation  adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain
     Dalam segi prestasi, terkadang di dalam kelas terdapat siswa yang tidak tertarik pada pelajaran Bahasa Inggris sehingga malas untuk mengerjakan tugas. Maka dari itu tugas guru adalah berbicara dengan siswa dan Bahasa Inggris juga bisa dikaitkan dengan hal yang ia sukai. Guru juga bisa memperlihatkan video kartun kesayangan siswa dalam Bahasa Inggris lalu mengatakan “lihat, karakter yang kamu sukai saja bisa Bahasa Inggris, kamu juga harus bisa Bahasa Inggris agar tidak kalah dengan dia”.
     Guru harus memperhatikan variasi individual, terutama konteks sosiokultural yaitu perbedaan etnis dan sosioekonomi. Menurut Ballentine dan Roberts, perbedaan
pencapaian lebih erat kaitannya dengan sosioekonomi, dibandingkan etnis (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru diharapkan untuk memperhatikan dalam pemberian pengetahuan alat-alat yang ada di rumah. Guru juga diharapkan untuk tidak memasukkan alat-alat yang canggih dan mahal seperti komputer, microwave, dan sepeda. Hal ini bisa saja ada anak-anak yang berasal dari sosioekonomi yang rendah tidak memiliki alat-alat tersebut.
     Suasana kelas juga harus dibuat kondusif dan tetap nyaman. Kelas yang bersih akan membuat proses belajar dan mengajar menjadi nyaman. Perlunya di dalam kelas diletakkan tempat sampah untuk membuang kertas-kertas sampah.
3.7 Pedoman Evaluasi Pencapaian Tujuan Program
     Dalam melakukan evaluasi, digunakan sistem grading yaitu menerjemahkan informasi penilaian deskriptif ke dalam huruf, angka, dan tanda lain yang mengindikasi kualitas dari pembelajaran dan penampilan siswa (Santrock, 2012). Pada program ini digunakan angka dalam sistem grading. Tingkatan angka yang diberikan kepada siswa dimulai dari nilai 1 sampai dengan 4.
      Standard dalam sistem grading ini menggunakan dua standard yaitu criterion-referenced grading, yaitu siswa menerima grade tertentu untuk level tertentu dari performanya terlepas dari perbandingan dengan siswa lain (Santrock, 2012). Tingkatan nilai tersebut membentuk standards-based grading yaitu perkembangan yang didasarkan oleh criterion-referenced grading yang terdapt juga rubrics. Menurut McMillan rubrics digunakan untuk mengidentifikasikan derajat siswa dalam mencapai standard (dikutip dalam Santrock, 2012).




Tabel 1
Rubrik Penilaian Guru terhadap Siswa
Kriteria
Respons
Kemampuan memahami materi
1 = Materi yang ditampilkan tidak sesuai dengan tugas yang diberikan
2 =Materi yang ditampilkan sedikit sesuai dengan tugas yang diberikan
3 = Materi yang ditampilkan hampir sesuai dengan tugas yang diberikan
4 = Materi yang ditampilkan sesuai dengan tugas yang diberikan
Kemampuan menghapal benda-benda dalam Bahasa Inggris






1 = Siswa mampu menghapal sedikit benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
2 = Siswa mampu menghapal setengah dari benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
3 = Siswa mampu menghapal hampir semua benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
4 = Siswa mampu menghapal semua benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris

Kemampuan mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan benar
1 = Siswa mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan kesalahan yang besar

    














Penutup
     Program ini dibuat penulis tanpa adanya kegiatan observasi. Kemungkinan dari kelemahan dari program ini adalah program ini belum bisa dipastikan berhasil atau tidak. Keunggulan dari program ini adalah dengan adanya program ini siswa tidak hanya meningkatkan vocabulary knowledge, tetapi juga meningkatkan keterampilan membaca, menulis dan mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris. Siswa juga akan menambah kreativitas mereka saat membuat tulisan dan menempel kertas tersebut.
     Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program ini, apabila guru memperkenalkan benda yang berbentuk cairan sehingga tidak mungkin untuk ditempelkan kertas, cairan tersebut bisa diletakkan dalam wadah lalu ditempelkan kertas tersebut pada wadah tentunya nama dari benda tersebut menjadi berubah. Contoh dari perubahannya adalah dari “coffee” menjadi “a cup of coffee”.
     Keunggulan dari makalah ini adalah memiliki banyak sumber yang terpercaya. Penulis juga memasukkan beberapa materi psikologi. Kelemahan dari makalah ini adalah ada beberapa kalimat yang kurang dimengerti. Kemungkinan kelemahan yang lain adalah ada beberapa indikator yang diharapkan oleh dosen pembimbing mungkin saja tidak ada dalam makalah ini.
 Daftar Pustaka
Coyne, M. D., Kame’enui, E. J., & Carnine, D. W. (2011). Effective teaching strategies that accommodate diverse learners. (4th ed.). New Jersey: Pearson
Gunarsa, D. S. (2004). Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Kemdikbud. (2012). Sekolah dasar. Diunduh dari http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolah-dasar
King, L. A. (2013). The science of psychology an appreciative view. (2nd ed.). NY: McGraw-Hill
Mar’at, S. (2005). Psikolinguistik suatu pengantar. Bandung: Refika Aditama
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2012). Experience human development. (12th ed.). NY: McGraw-Hill
Robinson, L. (2013). English chest. Indonesia: Asta Ilmu Sukses
Rupilu, N. (2012). Mendesain kelas belajar yang kompetibel dengan otak. Diunduh dari edukasi.kompasiana.com/2012/12/19/mendisain-kelas-belajar-yang-kompatibel-dengan-otak-517320.html
Santrock, J. W. (2012). Educational psychology. (5th ed.). NY: McGraw-Hill
Shanker, J. L., & Cockrum, W. (2010). Developing vocabulary knowledge. Retrieved from http://www.education.com/reference/article/developing-vocabulary-knowledge/


Rancangan Program untuk Anak kelas 2 SD (TUGAS)

BAB II
Landasan dalam Penyusunan Program

2.1 Latar Belakang Penyusunan Program
     Pada era globalisasasi ini, siswa dituntut  untuk dapat mengikuti perkembangan dunia yang tidak ada habisnya. Dalam mengikuti perkembangan dunia, siswa harus memahami lebih dari dua bahasa, salah satunya adalah Bahasa Inggris. Keterampilan dalam berbahasa Inggris sangat dibutuhkan terutama dalam tuntutan pekerjaan. 
     Salah satu dasar dari keterampilan Bahasa Inggris adalah vocabulary knowledge, yaitu kemampuan untuk mengetahui arti dari bahasa (Shanker, 2010). Pengetahuan akan vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris sangat diperlukan dalam memahami kata, dan memahami bacaan. Menurut Coyne, et al. (2011), hubungan antara vocabulary knowledge dan pemahaman relatif berbanding lurus. Menurut Stahl (dikutip dalam Coyne, et al., 2011), jika siswa tidak tahu arti dari kata secara tunggal, kemampuan mereka untuk memahami makna dari kalimat secara utuh atau paragraph menjadi berkurang.
     Pengembangan vocabulary knowledge  dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti barang-barang yang di sekitar kita. Program ini dibuat untuk meningkatkan vocabulary knowledge pada siswa dengan cara membiasakan siswa melihat petunjuk kata dalam Bahasa Inggris mengenai barang-barang yang ia kenali.


2.2 Tujuan Penyusunan Program
     Penulis menyusun makalah rancangan program pendidikan belajar dengan melihat. Pengertian dari belajar dengan melihat ini adalah anak melihat kata yang ada di dalam suatu benda lalu mengingat kata tersebut untuk meningkatkan vocabulary knowledge yang ia miliki. Program ini bertujuan untuk membantu siswa dalam menambah pengetahuan dalam Bahasa Inggris terutama pada vocabulary knowledge. Siswa tidak hanya mampu meningkatkan vocabulary knowledge, tetapi juga mampu mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan benar. Program ini juga diharapkan untuk membantu guru dalam mengajarkan siswa pelajaran Bahasa Inggris.
2.3 Analisis Karakteristik Kompetensi
     Menurut Papalia (dikutip dalam Gunarsa, 2004), bilingual adalah kefasihan berbicara dua bahasa. Dua bahasa yang dimaksud biasanya adalah bahasa ibu (native language) dan bahasa asing (foreign language). Kemampuan bilingual sangat diperlukan di dunia pekerjaan dan harus dilatih sejak kecil.
     Pada siswa kelas tiga SD terdapat beberapa silabus yang diberikan salah satunya adalah pada bab satu, yaitu at home. Standar kompetensi  pada bab ini adalah siswa mampu mengidentifikasi peralatan rumah tangga dan lokasi dimana peralatan tersebut diletakkan. Pada bab tiga, yaitu cultures and food siswa diharapkan untuk belajar mengenai makanan dan mengidentifikasi makanan (Robinson, 2013). Siswa kelas tiga SD juga bisa diajarkan mengenai barang-barang yang ada di dalam kelas dalam Bahasa Inggris.

2.4 Analisis Karakteristik Pemberi Program
          Menurut Santrock (2012),  guru yang efektif harus memiliki beberapa komponen dalam mengajar. Komponen penting yang harus dimiliki guru dalam memberikan program pendidikan yang dirancang penulis kepada siswa adalah Subject Matter Competence, Instructional Strategies, Motivational Skill, Communication Skill, Technological Skill.
      Pada subject matter competence, menurut Abruscato, et al. “memiliki pemahaman yang dalam mengenai materi adalah aspek penting untuk menjadi kompeten” (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru juga harus mampu menerapkan aplikasi pembelajaran di kehidupan sehari-hari. Di kelas Bahasa Inggris guru harus menguasai materi mengenai bahasa Inggris. Guru juga harus memiliki vocabulary knowledge yang banyak dalam Bahasa Inggris terutama pada benda-benda yang ada di sekitar siswa seperti di dalam kelas.
     Pada Instructional Strategies guru menggunakan constuctivist approach, yaitu pembelajaran terpusat pada siswa. Guru akan membantu siswa menambah vocabulary knowledge mereka dengan mengenal benda-benda yang ada di  lingkungan siswa dalam Bahasa Inggris. Guru akan memberi tugas kepada siswa untuk menempelkan kertas pada benda-benda yang ada di sekitar mereka berisi nama benda tersebut dalam bahasa inggris.
     Pada motivational skill, menurut Anderman dan Dawson, “guru yang efektif memiliki strategi yang baik untuk membantu siswa bisa memotivasi dirinya dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari” (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru harus memiliki strategi seperti memberikan reinforcement  bagi siswa yang memiliki vocabulary knowledge paling banyak agar para siswa mampu memotivasi diri mereka dalam menambah vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris.
     Pada communication skill, guru harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada siswa. Guru harus mampu menjelaskan tugas yang diberikan kepada siswa dengan sangat jelas agar siswa mengerti mengenai tugas tersebut. Guru juga harus mampu menjawab pertanyaan siswa dengan sikap yang bersahabat sehingga siswa senang untuk berkomunikasi dengan guru.
     Pada technological skill, guru harus mampu menjadikan teknologi sebagai alat pendukung dalam pembelajaran. Guru harus mengenalkan kepada siswa mengenai teknologi seperti internet dan kamus elektronik untuk menambah vocabulary knowledge pada siswa.
2.5 Analisis Karakteristik Peserta Program
     Peserta program “belajar dengan melihat” adalah siswa dari sekolah dasar (SD). Sekolah dasar adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu enam tahun mulai kelas satu sampai kelas enam (Kemdikbud, 2012).
     Siswa yang mendapatkan program ini adalah siswa kelas tiga SD yang berada dalam tahapan middle childhood. Menurut Piaget, anak usia middle childhood berada pada tahapan concrete operations yaitu ketika anak mampu menggunakan operasi mental seperti penalaran dan menyelesaikan masalah konkrit (dikutip dalam Papalia, & Feldman, 2012). Anak akan lebih mudah untuk belajar ketika ditunjukkan contoh langsung. Dengan melihat langsung benda yang ada di sekitar anak, lalu nama benda tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Inggris anak akan lebih dalam belajar bahasa Inggris.
     Pada tahapan concrete operations, siswa juga memiliki  kemampuan mengkategorisasikan objek. Pada program pembelajaran ini siswa juga akan diminta untuk mengkategorisasikan benda mana yang termasuk alat tulis, perabotan rumah tangga, peralatan untuk makan dan lain-lain.
      Siswa kelas tiga SD yang umumnya berumur delapan sampai sembilan tahun berada pada tahapan psikososial industry vs inferiority. Pada tahapan ini anak ingin berkompetisi dan menjadi lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Siswa kelas tiga SD diharapkan mampu bersaing untuk memiliki vocabulary knowledge paling banyak. Pada tahapan ini self-esteem anak mulai terbentuk.
     Menurut Erikson, “faktor yang menentukan self-esteem­ adalah pandangan siswa mengenai kapasitas mereka dalam pekerjaan yang produktif” (dikutip dalam Papalia & Feldman, 2012).

2.6 Analisis Pendekatan Belajar
     Pendekatan belajar yang digunakan pada program ini adalah behavioral approach dan the information-processing approach. Pendekatan belajar pertama adalah behavioral approach, pada pendekatan ini terdapat pandangan behaviorism. Pandangan behaviorism yaitu pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan dengan pengalaman observasi, bukan dengan proses mental. Perilaku adalah semua yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, baik verbal maupun nonverbal yang dapat dirasakan oleh indera. Perilaku tersebut bisa seperti anak membuat poster, dan guru mengajar (Santrock, 2012).
     Siswa dapat menciptakan hasil yang nyata dalam tugas ini yaitu barang-barang yang dimiliki siswa dapat ditempel dengan kertas yang berwarna dan bagus, dan tulisan yang rapi. Guru juga harus melihat dan mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas tersebut apakah benar atau salah.
     Pendekatan belajar yang kedua adalah the information-processing approach¸ yaitu pendekatan yang menekankan bagaimana siswa memanipulasi informasi, mengawasi dan membuat strategi mengenai informasi tersebut (Santrock, 2012).
2.7 Analisis Aktivitas Belajar
     Pada program ini juga menggunakan pembelajaran operant conditioning, yaitu bentuk dari pembelajaran dengan konsekuensi dari perilaku yang menghasilkan perubahan dengan kemungkinan suatu perilaku akan muncul (Santrock, 2012). Siswa diberikan reinforcement, yaitu konsekuensi yang meningkatkan kemungkinan suatu perilaku akan muncul (Santrock, 2012). Jenis reinforcement yang diberikan berupa pujian untuk siswa ketika mampu menghapal kata-kata dalam Bahasa Inggris. Siswa juga melakukan proses modelling, yaitu pembelajaran yang terjadi ketika sesorang mengobservasi dan mengimitasi perilaku (King, 2013). Guru menempelkan kata dalam Bahasa Inggris pada setiap benda, saat melihat perilaku guru, siswa akan terpacu untuk mengikuti guru tersebut.
     Metode pengajaran yang diberikan guru di kelas adalah dengan mekanisme untuk mengubah keterampilan kognitif anak yaitu encoding, automaticity¸dan strategy construction.
     Encoding adalah proses dimana informasi dimasukkan ke dalam memori (Santrock, 2012). Siswa akan diminta untuk melakukan proses encoding dengan cara menempelkan kertas berisi tulisan nama benda dalam bahasa Inggris pada setiap benda yang ada di sekitar siswa. Setiap kali siswa melihat benda tersebut, siswa akan melihat nama benda tersebut dalam bahasa inggris. Nama benda dalam bahasa Inggris tersebut akan masuk ke dalam memori anak contohnya anak akan melihat bahwa table adalah Bahasa Inggris dari meja.
     Automaticity adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit usaha atau tanpa usaha (Santrock, 2012). Ketika anak sudah melakukan encoding¸ anak akan mampu memproses informasi khususnya dalam Bahasa Inggris secara otomatis. Saat anak ditanyakan kata pintu dalam Bahasa Inggris, anak akan langsung menjawab “door” secara cepat tanpa berpikir panjang.
     Strategy construction adalah membuat prosedur baru untuk memproses informasi (Santrock, 2012). Saat guru sudah membiasakan anak untuk menghafal nama benda dalam Bahasa Inggris dengan cara melihat ke arah tulisan yang ditempel, anak akan mencari cara lain menghafal seperti menuliskan nama benda dalam Bahasa Inggris di buku catatan.
     Ketika tiga tahapan mengubah keterampilan kognitif anak sudah dilakukan, diharapkan informasi tersebut dapat masuk ke long-term memory.  Menurut Santrock (2012), long-term memory adalah memori dalam jumlah yang banyak untuk masuk ke dalam memori dalam jangka waktu yang panjang.
     Pada program ini, anak juga akan diminta untuk belajar dengan individu. Hal ini dikarenakan pada tahapan psikososial industry vs inferiority¸anak akan berusaha untuk berkompetisi dan menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Maka dari itu mengerjakan tugas secara individual akan cocok untuk anak pada tahapan ini.
2.8 Analisis Evaluasi Belajar
     Jenis assessment yang dilakukan guru untuk penilaian adalah summative assessment yaitu penilaian setelah instruksi dilakukan, dengan tujuan mendokumentasikan performa siswa (Santrock, 2012). Guru akan menilai dengan menanyakan nama-nama benda yang diingat oleh siswa setelah beberapa hari siswa terbiasa melihat benda yang ditempelkan nama benda tersebut dalam bahasa inggris.
     Proses penilaian juga bisa menggunakan cara matching items, yaitu menurut Humbleton (dikutip dalam Santrock, 2012), guru akan meminta siswa mencocokkan satu kelompok stimuli dengan satu kelompok stimuli yang lainnya dengan benar. Siswa akan diberikan kertas yang berisikan gambar dari benda-benda di sisi kiri dan tulisan berisi nama benda di sisi kanan. Siswa disuruh mencocokkan nama benda yang sesuai dengan bendanya. Siswa juga bisa diberikan dua tumpuk kartu, satu tumpuk kartu berisi gambar dan satu tumpuknya lagi bertuliskan nama-benda dalam Bahasa Inggris lalu siswa disuruh mencari pasangan setiap kartu.
     Guru juga dapat menggunakan tes vocabulary knowledge, menurut Mar’at (2005),  dalam tes ini, anak harus menunjukkan gambar mana yang sesuai dengan kata-kata yang diucapkan tes, untuk mengukur apakah anak mengerti makna tersebut. Dapat pula anak disuruh menyebutkan nama dari benda-benda yang terdapat dalam suatu gambar.

















Bab III
Program Belajar dengan Melihat
3.1 Tujuan Program
     Tujuan program “Belajar dengan Melihat” ini menggunakan Bloom’s taxonomy yang dikembangkan oleh Benjamin Bloom beserta temannya. Pada Bloom’s taxonomy terdapat tiga domain yaitu kognitif, afeksi, dan psikomotor. Tujuan program ini hanya menggunakan dua domain dari Bloom’s taxonomy yaitu kognitif dan afeksi.
     Domain kognitif terdiri dari enam objektif yaitu: (a) knowledge, siswa memiliki kemampuan untuk mengingat informasi. Siswa diharapkan mampu mengingat informasi mengenai nama benda yang ada di sekitar dalam Bahasa Inggris; (b) comprehension, siswa memahami informasi dan dapat menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri. Siswa mampu memahami informasi mengenai nama benda dalam Bahasa Inggris, lalu mampu menjelaskan nama tersebut dengan guru dan teman-temannya dengan cara mereka sendiri; (c) application, siswa menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata. Siswa diharapkan mampu menggunakan pengetahuan mereka dalam Bahasa Inggris, seperti lebih paham dalam membaca teks Bahasa Inggris; (d) analysis, siswa memecah informasi yang kompleks ke dalam bagian-bagian kecil dan menghubungkan informasi ke informasi yang lainnya. Siswa diharapkan mampu membedakan kata benda berdasarkan kegunaannya seperti pada kata book, dipecah lagi menjadi textbook, phonebook, dan lain-lain; (e) synthesis,  siswa mengombinasikan elemen dan membuat informasi baru. Pada program ini siswa dapat mencari nama baru dalam Bahasa Inggris pada suatu benda baru sehingga ia mendapatkan informasi dan vocabulary knowledge yang baru; (f) evaluation, siswa membuat penilaian yang baik dan keputusan. Melalui program ini siswa diharapkan membuat penilaian seberapa banyak vocabulary knowledge yang ia miliki dan memutuskan untuk menambah lagi.
     Menurut Krathwohl (dikutip dalam Santrock, 2012), pada domain afeksi memiliki lima objektif yang terkait dengan respon emosional terhadap tugas yaitu: (a) receiving, siswa menjadi aware dan perhatian terhadap sesuatu di dalam lingkungannya. Dengan pemberian label pada setiap benda siswa akan lebih memperhatikan barang-barang yang ada di sekitarnya; (b) responding, siswa menjadi termotivasi untuk belajar dan menampilkan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Siswa diharapkan termotivasi untuk memperbanyak perbendaharaan mereka dan memberitahukan apa yang ia ketahui kepada guru dan orangtuanya; (c) valuing, siswa menjadi terkait atau komitmen pada beberapa pengalaman. Siswa akan merasa pintar ketika ia memiliki vocabulary knowledge yang banyak sehingga ia terus menambah vocabulary knowledge dalam Bahasa Inggris; (d) organizing, siswa mengintegrasikan nilai baru yang sudah ada pada seperangkat nilai dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas. Siswa memiliki nilai dari setiap vocabulary knowledge yang ia miliki, dan ia akan menempelkan kata dalam Bahasa Inggris pada setiap barang baru yang ia miliki; (e) value characterizing siswa bertingkahlaku sesuai dengan nilai baru dan komitmen kepada nilai tersebut. Siswa diharapkan meningkatkan vocabulary knowledge yang ia miliki tidak hanya pada benda-benda tetapi pada kata yang lain.
3.2 Jangka Waktu Pelaksanaan
     Jangka waktu pelaksanaan program ini adalah selama satu bulan. Program ini dilaksanakan 1 kali dalam seminggu pada 1 sesi dengan waktu 90 menit. Pelaksanaan program ini dilakukan dengan waktu yang cukup lama karena dalam pelaksanaan program ini dibutuhkan banyak prosedur. Waktu yang cukup lama juga dikarenakan waktu untuk pelajaran Bahasa Inggris di jadwal pelajaran yang sudah ditetapkan dari sekolah sangat sedikit.
3.3 Kondisi Tempat Pelaksanaan
     Kelas yang digunakan menggunakan standard classroom arrangement dengan model auditorium style yaitu semua siswa duduk menghadap ke arah guru. Pengaturan kelas seperti ini akan menghambat interaksi face-to-face pada siswa. Auditorium style sering digunakan ketika presentasi.
Figur 1. Auditoritum Style Classroom
     Pencahayaan di dalam kelas sangat penting untuk menjaga konsentrasi siswa dalam belajar. Cahaya dengan spektrum penuh atau cahaya alami adalah yang paling baik. Suhu di dalam kelas juga harus diperhatikan. Idealnya di dalam kelas harus memiliki pendingin udara, tetapi jika  keuangan sekolah tidak mencukupi bisa disiasati dengan cara lain seperti ruangan kelas yang terbuka atau meletakkan beberapa tanaman untuk menghasilkan oksigen (Rupilu, 2012).
3.4 Materi Perlengkapan
     Untuk membuat pelaksanaan program menjadi lebih efektif, diperlukan alat-alat untuk membantu pelaksanaan program ini. Alat-alat yang dibutuhkan adalah papan tulis, kertas warna-warni, spidol, microphone, kamus Bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Bahasa Inggris.
3.5 Prosedur Pelaksanaan Program
Tabel 1
Kegiatan dalam Rancangan Program Pendidikan
No.
Tujuan Instruksional
Waktu
Kegiatan
Keterangan
1.
Siswa mengenal Bahasa Inggris baru.
30 menit
Guru menuliskan di papan tulis kata-kata mengenai benda-benda di sekitar kita dalam Bahasa Inggris.
Papan Tulis
2.
Siswa mampu mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan benar.
15 menit
Setelah guru menuliskan kata dalam Bahasa Inggris, guru mengajak siswa bersama-sama menggunakan kata tersebut.
microphone
3.
Siswa mampu menuliskan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan benar.
15 menit
Guru menyuruh siswa menuliskan kata-kata tersebut dalam Bahasa Inggris. Setelah itu siswa diberikan tugas untuk menempelkan kata-kata tersebut pada benda.
Kertas warna-warni, spidol, selotip
4.
Siswa mampu menghapal kata-kata dalam Bahasa Inggris
1 jam
Setiap siswa maju di depan kelas dan ditanyakan mengenai kata-kata dalam Bahasa Inggris beserta artinya. Siswa juga diberikan kartu bergambar dan menebak Bahasa Inggris dari gambar yang ada di dalam kartu tersebut. 
Kartu bergambar




3.6 Aspek-Aspek yang Perlu Dipertimbangkan dan Upaya yang dapat Dilakukan
     Aspek yang perlu dipertimbangkan meliputi motivasi, masalah prestasi, variasi individual, dan suasana kelas. Siswa dalam kelas Bahasa Inggris melakukan tugas tersebut secara individu. Guru harus berusaha untuk menumbuhkan intrinsic  motivation  yang lebih besar dibandingkan extrinsic motivation. Intrinsic motivation adalah motivasi internal melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, sedangkan extrinsic motivation  adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain
     Dalam segi prestasi, terkadang di dalam kelas terdapat siswa yang tidak tertarik pada pelajaran Bahasa Inggris sehingga malas untuk mengerjakan tugas. Maka dari itu tugas guru adalah berbicara dengan siswa dan Bahasa Inggris juga bisa dikaitkan dengan hal yang ia sukai. Guru juga bisa memperlihatkan video kartun kesayangan siswa dalam Bahasa Inggris lalu mengatakan “lihat, karakter yang kamu sukai saja bisa Bahasa Inggris, kamu juga harus bisa Bahasa Inggris agar tidak kalah dengan dia”.
     Guru harus memperhatikan variasi individual, terutama konteks sosiokultural yaitu perbedaan etnis dan sosioekonomi. Menurut Ballentine dan Roberts, perbedaan
pencapaian lebih erat kaitannya dengan sosioekonomi, dibandingkan etnis (Dikutip dalam Santrock, 2012). Guru diharapkan untuk memperhatikan dalam pemberian pengetahuan alat-alat yang ada di rumah. Guru juga diharapkan untuk tidak memasukkan alat-alat yang canggih dan mahal seperti komputer, microwave, dan sepeda. Hal ini bisa saja ada anak-anak yang berasal dari sosioekonomi yang rendah tidak memiliki alat-alat tersebut.
     Suasana kelas juga harus dibuat kondusif dan tetap nyaman. Kelas yang bersih akan membuat proses belajar dan mengajar menjadi nyaman. Perlunya di dalam kelas diletakkan tempat sampah untuk membuang kertas-kertas sampah.
3.7 Pedoman Evaluasi Pencapaian Tujuan Program
     Dalam melakukan evaluasi, digunakan sistem grading yaitu menerjemahkan informasi penilaian deskriptif ke dalam huruf, angka, dan tanda lain yang mengindikasi kualitas dari pembelajaran dan penampilan siswa (Santrock, 2012). Pada program ini digunakan angka dalam sistem grading. Tingkatan angka yang diberikan kepada siswa dimulai dari nilai 1 sampai dengan 4.
      Standard dalam sistem grading ini menggunakan dua standard yaitu criterion-referenced grading, yaitu siswa menerima grade tertentu untuk level tertentu dari performanya terlepas dari perbandingan dengan siswa lain (Santrock, 2012). Tingkatan nilai tersebut membentuk standards-based grading yaitu perkembangan yang didasarkan oleh criterion-referenced grading yang terdapt juga rubrics. Menurut McMillan rubrics digunakan untuk mengidentifikasikan derajat siswa dalam mencapai standard (dikutip dalam Santrock, 2012).




Tabel 1
Rubrik Penilaian Guru terhadap Siswa
Kriteria
Respons
Kemampuan memahami materi
1 = Materi yang ditampilkan tidak sesuai dengan tugas yang diberikan
2 =Materi yang ditampilkan sedikit sesuai dengan tugas yang diberikan
3 = Materi yang ditampilkan hampir sesuai dengan tugas yang diberikan
4 = Materi yang ditampilkan sesuai dengan tugas yang diberikan
Kemampuan menghapal benda-benda dalam Bahasa Inggris






1 = Siswa mampu menghapal sedikit benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
2 = Siswa mampu menghapal setengah dari benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
3 = Siswa mampu menghapal hampir semua benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris
4 = Siswa mampu menghapal semua benda di satu kategori dalam Bahasa Inggris

Kemampuan mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan benar
1 = Siswa mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan kesalahan yang besar

    














Penutup
     Program ini dibuat penulis tanpa adanya kegiatan observasi. Kemungkinan dari kelemahan dari program ini adalah program ini belum bisa dipastikan berhasil atau tidak. Keunggulan dari program ini adalah dengan adanya program ini siswa tidak hanya meningkatkan vocabulary knowledge, tetapi juga meningkatkan keterampilan membaca, menulis dan mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris. Siswa juga akan menambah kreativitas mereka saat membuat tulisan dan menempel kertas tersebut.
     Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program ini, apabila guru memperkenalkan benda yang berbentuk cairan sehingga tidak mungkin untuk ditempelkan kertas, cairan tersebut bisa diletakkan dalam wadah lalu ditempelkan kertas tersebut pada wadah tentunya nama dari benda tersebut menjadi berubah. Contoh dari perubahannya adalah dari “coffee” menjadi “a cup of coffee”.
     Keunggulan dari makalah ini adalah memiliki banyak sumber yang terpercaya. Penulis juga memasukkan beberapa materi psikologi. Kelemahan dari makalah ini adalah ada beberapa kalimat yang kurang dimengerti. Kemungkinan kelemahan yang lain adalah ada beberapa indikator yang diharapkan oleh dosen pembimbing mungkin saja tidak ada dalam makalah ini.





Daftar Pustaka
Coyne, M. D., Kame’enui, E. J., & Carnine, D. W. (2011). Effective teaching strategies that accommodate diverse learners. (4th ed.). New Jersey: Pearson
Gunarsa, D. S. (2004). Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Kemdikbud. (2012). Sekolah dasar. Diunduh dari http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolah-dasar
King, L. A. (2013). The science of psychology an appreciative view. (2nd ed.). NY: McGraw-Hill
Mar’at, S. (2005). Psikolinguistik suatu pengantar. Bandung: Refika Aditama
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2012). Experience human development. (12th ed.). NY: McGraw-Hill
Robinson, L. (2013). English chest. Indonesia: Asta Ilmu Sukses
Rupilu, N. (2012). Mendesain kelas belajar yang kompetibel dengan otak. Diunduh dari edukasi.kompasiana.com/2012/12/19/mendisain-kelas-belajar-yang-kompatibel-dengan-otak-517320.html
Santrock, J. W. (2012). Educational psychology. (5th ed.). NY: McGraw-Hill
Shanker, J. L., & Cockrum, W. (2010). Developing vocabulary knowledge. Retrieved from http://www.education.com/reference/article/developing-vocabulary-knowledge/